• PONDOK PESANTREN MODERN NURUSSALAM
  • ( SMP - SMA ) Modern Islamic Boarding School

Memahami Hakikat Kebahagiaan bagi Orang yang Berpuasa

 

Alhamdulillah, Wassholatu Wassalamu ‘ala Rasulillah, Amma Ba’du.

Semoga Allah SWT senantiasa menerima seluruh rangkaian amal ibadah kita, mulai dari puasa wajib hingga amalan-amalan sunnah lainnya di bulan yang penuh berkah ini. Amin Ya Rabbal Alamin.

Kebahagiaan yang dijanjikan bagi seorang Muslim yang menjalankan ibadah puasa bukanlah sekadar angan-angan, melainkan realitas spiritual yang dibarengi dengan ganjaran tak terhingga. Puasa memiliki kedudukan yang sangat eksklusif di sisi Allah dibandingkan ibadah lainnya.

  1. Rahasia Ganjaran Langsung dari Allah SWT

Keistimewaan puasa terletak pada sifatnya yang "rahasia" antara hamba dan Penciptanya. Sebagaimana firman Allah dalam Hadist Qudsi:

 

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

 

"Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan ganjarannya." (HR. Bukhari & Muslim)

Nasihat dari Sayyidi Habib Umar bin Hafidz BSA memperjelas hal ini. Beliau mengibaratkan orang yang berpuasa seperti seorang pekerja yang loyal. Sebagaimana seorang pekerja berhak menerima upahnya segera setelah pekerjaannya tuntas, demikian pula orang yang menyempurnakan puasanya; Allah akan memberikan "gaji" atau balasan-Nya secara langsung sebagai bentuk apresiasi atas ketaatan hamba-Nya yang telah meninggalkan syahwat demi-Nya.

  1. Dua Dimensi Kebahagiaan: Jasad dan Ruh

Mengenai bentuk kebahagiaan tersebut, Imam Rabbani Sayyid Abdul Wahhab Asy-Sya’rani (semoga Allah meridhoinya) dalam kitab Al-U’hud Al-Muhammadiyah memberikan penjelasan yang sangat mendalam saat mensyarah (menjelaskan) hadis populer:

 

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

“Dan untuk orang yang berpuasa mendapatkan dua kebahagiaan yang mereka rasakan: kebahagiaan ketika ia berbuka, dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Tuhannya, maka ia akan senang karena puasanya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Imam Asy-Sya’rani menjelaskan rahasia di balik dua kebahagiaan ini dengan tinjauan penciptaan manusia:

 

قال الإمام الرباني سيدي عبدالوهاب الشعراني رضى الله عنه عند شرح الحديث الذى رواه البخاري ومسلم ( وللصائم فرحتان يفرحهما إذا أفطر وإذا لقي ربه فرح بصومه ) وإنما كان الصائم يفرح بهذين الشيئين لأن الإنسان مركب من جسم وروح فغذاء الجسم الطعام وغذاء الروح لقاء الله والله أعلم (???? العهود المحمدية صـ 173)

 

Penjelasan (Syarah):

Mengapa kebahagiaan ini terbagi menjadi dua? Karena manusia adalah mahluk komposit yang terdiri dari Jasad dan Ruh:

  • Kebahagiaan Jasad (Saat Berbuka): Secara kodrat, jasad manusia tercipta dari tanah dan membutuhkan nutrisi fisik. Setelah menahan lapar dan dahaga seharian, momen berbuka menjadi puncak kepuasan bagi dimensi fisik. Makanan dan minuman adalah "santapan" yang mengembalikan energi jasad.
  • Kebahagiaan Ruh (Saat Bertemu Allah): Namun, manusia juga memiliki ruh yang bersifat samawi (langit). Ruh tidak kenyang dengan makanan, melainkan dengan kedekatan kepada Sang Khaliq. "Santapan" tertinggi bagi ruh adalah Liqa'ullah (bertemu Allah). Di akhirat kelak, puasa yang dijalankan dengan ikhlas akan menjadi jembatan utama yang mengantarkan hamba-Nya pada kenikmatan memandang wajah Allah SWT.

Dengan demikian, puasa adalah ibadah yang paripurna karena ia memenuhi hajat fisik sekaligus menjadi sarana transformasi ruhani agar manusia kembali suci dan layak bertemu dengan Tuhannya.

Wallahu A’lam Bish-shawab.

 

 Referensi:

Kitab Al-U’hud Al-Muhammadiyah, Karya Imam Abdul Wahhab Asy-Sya’rani, Hal. 173.

 

Penulis: M.Dzakiy

Khodimul Ma'had

 

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Agar Puasa Tak Sekadar Haus: Bekal Penting Menjelang Ramadan

Merancang Ibadah yang Lebih Bermakna Dan Menjadi Insan Yang Mulia Di Bulan Ramadhan   Ramadan bukan sekadar perubahan jam makan, melainkan momen transformasi spiritual yang diwaj

17/02/2026 12:59 - Oleh Admin - Dilihat 156 kali